5000 Mangrove Ditanam

Walikota Langsa Tgk Usman Abdullah, SE sedang menanam bibit pohon mangrove bertempat di Gampong Kuala Langsa, Kecamatan Langsa Barat, Jumat (8/2/2019).

Langsa – Pengendalian Daerah Aliran Sungai dan Hutan Lindung Kementerian Lingkungan Hidup (PDASHL KLHK) bersama Pemko Langsa, melakukan penanaman lima ribu bibit pohon mangrove di Gampong Kuala Langsa, Kecamatan Langsa Barat, Jumat (8/2/2019).

Penanaman bibit pohon mangrove ini dalam memperingati hari lahan basah sedunia yang jatuh pada Sabtu (2/2/2019). Dengan tema “Penamaan mangrove dalam rangka mitigasi perubahan iklim”.

Dirjen PDASHL KLHK, Indra Bagus Pratama Putra, mengatakan, tema tersebut diambil karena Indonesia memiliki ekosistem mangrove yang mempunyai peran sangat penting dalam upaya pengendalian iklim kondisi saat ini luas hutan mangrove mencapai 1,81 juta hektare dari total 3,48 juta hektare. Kerusakan mangrove tersebut berdampak pada hilangnya kampuan menyerap 190 juta ton CO2 tiap tahunnya.
          
Dikatakan, mangrove sangat bermanfaat bagi lingkungan hidup manusia antara lain sebagai penyerap polutan, pencegah intrusi air laut, sarana penelitian dan pendidikan, penyimbangan karbon, wisata alam, tempat pemijahan aneka biota laut pelindung garis pantai dari abrasi dan tsunami serta tempat berlindung dan berkembang biaknya berbagai jenis fauna ekosistem payau.

Selain pentingnya manfaat mangrove, kegiatan ini di selenggarakan sebagai salah satu bentuk perwujudan rasa syukur kita kepada Tuhan yang maha kuasa atas anugerah karunia alam keindahan lingkungan dan berbagai macam manfaat yang telah kita peroleh dan ambil sejak kita dilahirkan sampai dengan sampai saat ini.

Dirjen Pengendalian Daerah Aliran Sungai dan Hutan Lindung Kementerian Lingkungan Hidup (PDASHL KLHK) Dr. Ir. Ida Bagus Putera Parthama, M.Sc menyerahkan penghargaan menanam 25 bibit pohon selama hidup kepada Walikota Langsa Tgk Usman Abdullah, SE dan Wakil Walikota Dr. H Marzuki Hamid, MM selaku Ketua Kwarcab Langsa bertempat di Gampong Kuala Langsa, Kecamatan Langsa Barat, Jumat (8/2/2019).

Serta bentuk jawaban kita kepada alam sekitar dan generasi yang akan datang, anak-anak dan cucu-cucu kita, agar tetap bisa menikmati keindahan ke Asrian alam sekitar kita .
       
Sebelumnya, Walikota Langsa, Usman Abdullah, SE, mengatakan, Kota Langsa ini mempunyai kawasan lahan basah yang cukup luas sebagai penyangga kehidupan. Kawasan lahan basah ini tumbuh dan berkembang berbagai spesies flora dan fauna, mulai tanaman bakau yang ragamnya mencapai lebih kurang 30 jenis, fauna endemik seperti lumba lumba, burung dan monyet, burung migran yang muncul pada bulan bulan tertentu semua itu adalah anugerah terindah yang di berikan Allah SWT.
       
“Ya, seperti Bapak Dirjen lihat di sekitar hutan mangrove ini masih banyak warga  miskin sehingga rentan di manfaatkan oknum yang sekedar mengejar keuntungan ekonomi semata dengan cara tidak melindungi, tidak menjaga bahkan merusak hutan mangrove yang ada,”ujarnya.
          
Namun, Pemko Langsa berusaha menjaga ekosistem yang belum rusak pendekatan konservasi berbasis kesejahteraan melalui pengembangan ekowisata hutan mangrove. Kegiatan ini diharapkan mangrove lestari, pendapatan masyarakat meningkat, lapangan kerja tercipta, dan warga masyarakat sejahtera lahir dan batinnya.
         
Dikatakan, untuk ekosistem yang sudah rusak, Pemko Langsa terus mengupayakan rehabilitas dengan melakukan penanaman kembali bibit mangrove seperti yang kita lakukan saat ini upaya seperti saat ini sebenarnya sudah kami lakukan melibatkan TNI/Polri, mahasiswa, pelajaran, OKP, ASN dan berbagai elemen masyarakat lainnya bersamaan dengan itu juga terus meningkatkan kerja dengan KPH III untuk meningkatkan pengawasan dan pengamanan mangrove agar minimalisir.

Alhamdulillah disampingnya pihak pemerintah dan kerja-kerja pemberdayaan masyarakat dilakukan dari banyak pihak untuk turut menjaga dan melestarikan mangrove di kota langsa ini. Untuk itu terima dan penghargaan setinggi-tingginya kami sampai kepada sahabat sahabat kami dari LSM Blae Jurong, AWF, WWF, yayasan gajah Sumatra (YAGASU), balee Syura Ireng Inong aceh, KNPi kota langsa, Pramuka Kwarcab dan lainnya

Upaya yang dilakukan tersebut telah meningkat kesadaran partisipasi masyarakat sekitar hutan mangrove untuk menjaga dan mengembangkan hutan mangrove yang ada. Beberapa gampong/desa di sekitar hutan mangrove telah inisiatif peraturan desa atau Qanun Gampong tentang pelestarian hutan mangrove. Membentuk petugas menjaga hutan mangrove, meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat untuk memfaatkan non kayu, seperti membuat sirup mangrove, dodol mangrove dan lainnya

Upaya seperti yang kami sebut tari akan maksimal jika ada dorongan dan bantuan dari pemerintah pusat baik konteks koordinasi dan bantuan fasilitas pengaman hutan mangrove maupun pemberdayaan masyarakat. Oleh karena itu pada kesempatan yang baik ini kami mengajukan permohonan kepada pemerintah pusat melalui bapak Dirjen agar berkenan membantu kami, misalnya dengan menambah biaya patroli, pemasangan cctv, penambahan pos pos di kawasan hutan, penambahan personil pengamanan, pelatihan keterampilan dan bantuan modal pemberdayaan ekonomi kelompok masyarakat sekitar hutan dan lainnya

Kami berharap dengan peringatan hari basah sedunia ini akan meningkat kesadaran tentang pentingnya basah bagi kehidupan kita .

Leave a Reply